
Oleh: Suhadi Choli*
Radar Kediri, 10 Nov 2010
Gunung Merapi terus menunjukkan kedigdayannya. Menyemburkan awan panas, lahar, dan abu vulkanik ke segala penjuru. Sampai Minggu (7/11), tidak kurang dari 114 orang meninggal dan 198 ribu warga mengungsi di posko-posko pengungsian, kampus, balai desa, sekolah dan rumah warga yang lebih aman.
Orang-orang tua yang penulis temui di Yogya bilang letusan merapi kali ini terbesar dalam sejarah hidup mereka.
Merapi diakui sebagai salah satu gunung api yang paling aktif di dunia. Di Indonesia, gunung ini juga yang paling banyak dibicarakan orang. Pembaca mungkin masih ingat, banyak orang “bertaruh” pada tahun 2006, apakah merapi akan meletus atau tidak.
Sosok Mbah Maridjan menjadi sorotan publik, terutama atas bantuan masif media yang meliputnya. Beliau berhadapan dengan para ilmuwan vulkanologi yang memprediksi saat itu merapi akan segera meletus.
Menariknya Sultan Yogya dan Presiden SBY pun melibatkan dirinya dalam pertaruhan itu. Saat itu mereka menyuruh Mbah Maridjan turun gunung. Mbah Maridjan seolah ngeyel. Untungnya sensitifitas alamiah Mbah Maridjan saat itu lebih unggul, merapi tidak jadi meletus.
Tidak demikian pada tahun 2010. Kini, Mbah Maridjan telah meninggal. Mbah Maridjan tidur dalam sujud meninggalkan merapi yang dia cintai untuk selamanya. Merapi tanpa Mbah Maridjan lagi. Namun, tafsir mengenai merapi selalu saja mewarnai perdebatan kita.
Merapi seolah sudah menjadi teks dan orang berebut untuk menafsirkannya.
Pertama, tafsir yang paling dominan adalah tafsir model ahli vulkanologi. Bumi Indonesia merupakan wilayah yang dilalui oleh cincin api. Pada waktu tertentu magma bumi harus keluar dari perut bumi sebagai proses alamiah bumi. Gunung merapi merupakan stasiun langganan paling aktif yang dipilih oleh alam untuk memuntahkan isi perut buminya.
Kemudian, seismograf berperan sebagai malaikat modern yang memberi aba-aba intensitas gejala akan meletusnya sebuah gunung. Berpedoman dengan seismograf, para ahli vulkanologi memberi peringatan kapan warga di sekitar gunung masih boleh bertahan atau kapan harus turun gunung karena bahaya mengancam.
Kedua, tafsir bahwa fenomena meletusnya gunung merapi bukan hanya peristiwa alam kasat mata belaka. Meletusnya gunung merapi lebih-lebih adalah luapan kemarahan para penunggu gunung (baca: eyang petruk dan para leluhur merapi lain) atas kebobrokan polah tingkah manusia.
Manusia sudah terlalu edan. Sepak terjang para politisi tidak karuan lagi jeluntrungnya, pemilik kapital menguras habis semua isi bumi, dan manusia melakukan ma lima tanpa tedeng aling-aling. Sehingga para leluhur di merapi memperingatkan manusia dengan menunjukkan amarahnya.
Oleh sebab itu, menurut tafsir ini pensikapan atas letusan merapi tidak cukup hanya dengan proses evakuasi korban dan proses rekonstruksi pasca bencana. Tapi harus komprehensif, manusia harus selalu eling lan waspada.
Untuk menjaga komunikasi dengan para leluhur di gunung merapi, menurut tafsir kedua harus selalu ada pihak yang menyuguhkan sesajen dan meruwat merapi. Kalau tafsir pertama di atas cukup menyajikan kepada teknologi seismograf berupa sesajen listrik, mesin, tinta dan perangkat-perangkat teknologi lainnya, tafsir kedua memerlukan sesajen dan ritual tertentu yang selama ini diperankan oleh Mbah Maridjan.
Meletusnya gunung merapi, bagi pemeluk tafsir kedua antara lain disebabkan karena Keraton Yogya agak lalai dalam memberikan sesajen kepada eyang merapi. Kurang lebih, Mbah Maridjan banyak dikuya-kuya oleh Keraton sampai akhirnya rela mengorbankan diri.
Sementara tafsir pertama tidak mau tahu dengan logika dan alam pikir tafsir kedua. Semua itu tak lain hanya sebentuk tahayul, mitos, atau syirik.
Rupanya tafsir pertama inilah yang kini paling dominan bersama pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keyakinan pada para leluhur digantikan oleh seismograf dan seperangkat teknologi lainnya.
Sebuah tafsir tidak pernah netral. Hal yang mengkhawatirkan adalah ilmu pengetahuan dalam sejarahnya membuktikan bahwa teknologi acapkali menampakkan wajah eksploitatif terhadap alam.
Proses rekonstruksi pasca bencana merapi semoga kelak tidak berpihak sepenuhnya pada para pemilik modal dengan dalih lereng merapi tidak layak huni karena rentan bencana. Dengan dalih tersebut, biasanya masyarakat lokal digusur.
Kekhawatiran ini tidak berlebihan, sebab merapi tidak lagi ditunggui Mbah Marijan yang sebelum terkenal tahun 2006, beliau dengan gigih membela masyarakat lokal merapi yang menolak relokasi (transmigrasi) dan menolak dibangunnya taman nasional dan lapangan golf.
Kalau kekhawatiran ini dilanjutkan selangkah, maka bisa melahirkan alternatif tafsir ketiga. Tafsir ini sebut saja dengan tafsir sosial. Silahkan memahami merapi dengan pendekatan science (ilmu pengetahuan) ataupun mistik (spiritual). Tapi satu hal yang terpenting adalah perlunya solidaritas dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat lokal.
Merekalah pemangku utama keberlanjutan merapi di masa depan. Karena itu suara pertama yang harus didengar dalam proses rekonstruksi merapi ke depan adalah suara-suara masyarakat lokal sekitar merapi sendiri.
-----------
Suhadi Cholil adalah dosen di Prodi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana UGM
Orang-orang tua yang penulis temui di Yogya bilang letusan merapi kali ini terbesar dalam sejarah hidup mereka.
Merapi diakui sebagai salah satu gunung api yang paling aktif di dunia. Di Indonesia, gunung ini juga yang paling banyak dibicarakan orang. Pembaca mungkin masih ingat, banyak orang “bertaruh” pada tahun 2006, apakah merapi akan meletus atau tidak.
Sosok Mbah Maridjan menjadi sorotan publik, terutama atas bantuan masif media yang meliputnya. Beliau berhadapan dengan para ilmuwan vulkanologi yang memprediksi saat itu merapi akan segera meletus.
Menariknya Sultan Yogya dan Presiden SBY pun melibatkan dirinya dalam pertaruhan itu. Saat itu mereka menyuruh Mbah Maridjan turun gunung. Mbah Maridjan seolah ngeyel. Untungnya sensitifitas alamiah Mbah Maridjan saat itu lebih unggul, merapi tidak jadi meletus.
Tidak demikian pada tahun 2010. Kini, Mbah Maridjan telah meninggal. Mbah Maridjan tidur dalam sujud meninggalkan merapi yang dia cintai untuk selamanya. Merapi tanpa Mbah Maridjan lagi. Namun, tafsir mengenai merapi selalu saja mewarnai perdebatan kita.
Merapi seolah sudah menjadi teks dan orang berebut untuk menafsirkannya.
Pertama, tafsir yang paling dominan adalah tafsir model ahli vulkanologi. Bumi Indonesia merupakan wilayah yang dilalui oleh cincin api. Pada waktu tertentu magma bumi harus keluar dari perut bumi sebagai proses alamiah bumi. Gunung merapi merupakan stasiun langganan paling aktif yang dipilih oleh alam untuk memuntahkan isi perut buminya.
Kemudian, seismograf berperan sebagai malaikat modern yang memberi aba-aba intensitas gejala akan meletusnya sebuah gunung. Berpedoman dengan seismograf, para ahli vulkanologi memberi peringatan kapan warga di sekitar gunung masih boleh bertahan atau kapan harus turun gunung karena bahaya mengancam.
Kedua, tafsir bahwa fenomena meletusnya gunung merapi bukan hanya peristiwa alam kasat mata belaka. Meletusnya gunung merapi lebih-lebih adalah luapan kemarahan para penunggu gunung (baca: eyang petruk dan para leluhur merapi lain) atas kebobrokan polah tingkah manusia.
Manusia sudah terlalu edan. Sepak terjang para politisi tidak karuan lagi jeluntrungnya, pemilik kapital menguras habis semua isi bumi, dan manusia melakukan ma lima tanpa tedeng aling-aling. Sehingga para leluhur di merapi memperingatkan manusia dengan menunjukkan amarahnya.
Oleh sebab itu, menurut tafsir ini pensikapan atas letusan merapi tidak cukup hanya dengan proses evakuasi korban dan proses rekonstruksi pasca bencana. Tapi harus komprehensif, manusia harus selalu eling lan waspada.
Untuk menjaga komunikasi dengan para leluhur di gunung merapi, menurut tafsir kedua harus selalu ada pihak yang menyuguhkan sesajen dan meruwat merapi. Kalau tafsir pertama di atas cukup menyajikan kepada teknologi seismograf berupa sesajen listrik, mesin, tinta dan perangkat-perangkat teknologi lainnya, tafsir kedua memerlukan sesajen dan ritual tertentu yang selama ini diperankan oleh Mbah Maridjan.
Meletusnya gunung merapi, bagi pemeluk tafsir kedua antara lain disebabkan karena Keraton Yogya agak lalai dalam memberikan sesajen kepada eyang merapi. Kurang lebih, Mbah Maridjan banyak dikuya-kuya oleh Keraton sampai akhirnya rela mengorbankan diri.
Sementara tafsir pertama tidak mau tahu dengan logika dan alam pikir tafsir kedua. Semua itu tak lain hanya sebentuk tahayul, mitos, atau syirik.
Rupanya tafsir pertama inilah yang kini paling dominan bersama pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keyakinan pada para leluhur digantikan oleh seismograf dan seperangkat teknologi lainnya.
Sebuah tafsir tidak pernah netral. Hal yang mengkhawatirkan adalah ilmu pengetahuan dalam sejarahnya membuktikan bahwa teknologi acapkali menampakkan wajah eksploitatif terhadap alam.
Proses rekonstruksi pasca bencana merapi semoga kelak tidak berpihak sepenuhnya pada para pemilik modal dengan dalih lereng merapi tidak layak huni karena rentan bencana. Dengan dalih tersebut, biasanya masyarakat lokal digusur.
Kekhawatiran ini tidak berlebihan, sebab merapi tidak lagi ditunggui Mbah Marijan yang sebelum terkenal tahun 2006, beliau dengan gigih membela masyarakat lokal merapi yang menolak relokasi (transmigrasi) dan menolak dibangunnya taman nasional dan lapangan golf.
Kalau kekhawatiran ini dilanjutkan selangkah, maka bisa melahirkan alternatif tafsir ketiga. Tafsir ini sebut saja dengan tafsir sosial. Silahkan memahami merapi dengan pendekatan science (ilmu pengetahuan) ataupun mistik (spiritual). Tapi satu hal yang terpenting adalah perlunya solidaritas dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat lokal.
Merekalah pemangku utama keberlanjutan merapi di masa depan. Karena itu suara pertama yang harus didengar dalam proses rekonstruksi merapi ke depan adalah suara-suara masyarakat lokal sekitar merapi sendiri.
-----------
Suhadi Cholil adalah dosen di Prodi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana UGM


